Apa Perbedaan Campak dan Cacar?

Campak dan cacar merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh terpaparnya virus.
Apa Perbedaan Campak dan Cacar?

Campak dan cacar merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh terpaparnya virus. Walaupun gejala dari dua penyakit ini sama, namun virus yang menyebabkannya berbeda. Campak yang biasa disebut rubella disebabkan oleh virus campak, sedangkan cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster.[1]

Dahulu penyakit ini sangat umum terjadi pada masa kanak-kanak, namun saat ini dapat dicegah dengan memberikan vaksinasi pada anak tersebut.[2]

Gejala Campak dan Cacar Air

Campak

Gejala campak meliputi:

  • Ruam kulit yang muncul pertama kali pada bagian garis rambut atau dahi dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.
  • Demam
  • Batuk kering
  • Pilek
  • Sakit tenggorokan
  • Mata merah dan meradang
  • Bintik merah di dalam mulut dan pipi

Bintik merah tersebut biasanya datar dan tidak menonjol seperti cacar. Walaupun beberapa kondisi campak juga terdapat bintik yang menonjol, namun bintik tersebut tidak terdapat cairan di dalamnya.

Cacar

Gejala cacar meliputi:[2,3]

  • Ruam kulit yang awalnya muncul di beberapa bagian seperti dada, wajah, dan punggung, namun dapat menyebar ke seluruh tubuh.
  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit perut
  • Sakit punggung
  • Muntah
  • Demam tinggi
  • Panas dingin

Gejala cacar tersebut dapat hilang dapat dua hingga tiga hari dan pasien akan merasa kondisinya lebih baik. Namun, saat itulah akan muncul ruam pada beberapa titik dan akan menyebar hingga ke seluruh tubuh.

Ruam yang muncul tersebut akan berkembang menjadi abses yang berisi cairan dan nanah. Ketika abses pecah maka akan menimbulkan keropeng.[3]

Penyebab Campak dan Cacar Air

Campak

Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubeola. Virus tersebut akan berkembang biak di hidung dan tenggorokan penderita. Pada saat penderita tersebut bersin, batuk, atas berbicara, maka virus akan keluar dan berada di udara.[4]

Cacar

Cacar merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus variola. Virus tersebut dapat ditularkan saat penderita batuk, bersin atau berbicara. Virus tersebut juga dapat ditularkan melalui sistem ventilasi sehingga akan menginfeksi orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Lebih lanjut, cacar juga dapat menyebar melalui barang-barang yang digunakan oleh orang yang terkontaminasi, seperti pakaian atau tempat tidur.[5]

Masa Penularan Campak dan Cacar Air

Cacar dan campak merupakan dua penyakit yang sangat menular sehingga memiliki masa penularan. Masa inkubasi penderita cacar adalah 7 hingga 19 hari, namun rata-rata masanya adalah 10 hingga 14 hari.

Dalam masa inkubasi tersebut, penderita masih belum mengetahui bahwa dirinya terpapar virus tidak terdapat gejala. Dalam masa ini, virus yang berada di dalam tubuh tidak dapat menular kepada orang lain.[6]

Masa inkubasi campak adalah 10 hingga 14 hari. Setelah virus berada di dalam tubuh, maka akan muncul beberapa gejala seperti pilek dan sakit tenggorokan.[4]

Kapan Harus Ke Dokter

Seseorang yang terkena campak harus ke dokter ketika:[7]

  • Demam yang tinggi lebih dari 38ºC
  • Nyeri dada atau kesulitan bernapas
  • Batuk darah
  • Kejang

Seseorang yang terkena cacar air harus ke dokter ketika:[8]

  • Ruam pada kulit berisi nanah dan tampak merah
  • Mengalami dehidrasi sehingga cenderung lesu dan lemas
  • Jari tangan dan kaki lebih dingin dari biasanya
  • Mengalami kesulitan bernapas

Pengobatan Campak dan Cacar Air

Campak

Sampai artikel ini dibuat, tidak ada pengobatan khusus untuk campak, dan biasanya gejala campak akan hilang dalam 7 hingga 10 hari. Jika seorang pasien tidak memiliki komplikasi lain saat terkena campak, maka dokter akan menyarankan untuk istirahat dan mengonsumsi banyak cairan sehingga mencegah tubuh dehidrasi.

Namun, jika seorang pasien mengalami komplikasi, maka dokter akan merekomendasikan untuk melakukan perawatan secara intensif di rumah sakit.[7]

Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala campak, yaitu:[7]

  • Mengatasi demam dan nyeri dengan tylenol atau ibuprofen.
  • Mengatasi batuk dengan humidifier atau membuat minuman lemon hangat dan ditambahkan dengan madu.
  • Mengatasi dehidrasi dengan minum banyak cairan.
  • Membersihkan kotoran yang ada pada mata dengan kapas yang telah dibasahi oleh air. Kemudian, kurangi cahaya lampu jika terlalu terang.

Cacar

Saat seseorang terkena cacar, maka akan timbul ruam-ruam yang sangat gatal. Karena hal tersebut, dokter biasanya meresepkan antihistamin untuk mengurangi rasa gatal yang ditimbulkan.

Dokter juga akan memberikan obat antivirus seperti asiklovir yang ditujukan untuk mengurangi infeksi yang ditimbulkan. Obat tersebut hanya diberikan kepada beberapa orang saja, seperti orang yang memiliki kekebalan lemah, orang yang menggunakan obat steroid, bayi yang tidak divaksinasi, serta orang dewasa yang belum pernah diberikan vaksin cacar air.[1]

Beberapa tips yang dapat digunakan untuk mengurangi ruam cacar air yaitu:[2]

  • Tidak menggaruk bercak cacar air karena dapat menyebabkan infeksi.
  • Mandi air dingin atau menggunakan kompres air dingin untuk mengurangi gatal. Gunakan handuk bersih untuk mengeringkan badan setelah mandi.
  • Oleskan lotion untuk mengurangi gatal.
  • Konsumsi antihistamin OTC, seperti Benadryl untuk meredakan rasa gatal.
  • Jika mulut Anda melepuh, maka lebih baik untuk mengonsumsi makanan dingin atau hambar. Hindari makanan pedas, panas, atau asam yang dapat memperparah kondisi mulut tersebut.

Pencegahan Campak dan Cacar Air

Campak

Seseorang yang sudah terkena campak cenderung memiliki kekebalan imun dan kemungkinan besar tidak akan terkena lagi. Namun untuk orang yang belum pernah terkena campak, maka dokter akan menyarankan untuk vaksinasi.[7]

Cacar

Jika seseorang terkena cacar, maka dirinya akan diisolasi untuk menghindari penyebaran virus. Siapa pun yang berinteraksi dengan penderita tersebut membutuhkan vaksin cacar untuk mencegah terpapar virus tersebut.[5]

Ada dua jenis vaksin yang untuk penyakit ini. Pertama yaitu ACAM2000, yang menggunakan virus hidup. Vaksin jenis ini memiliki risiko yang tinggi seperti menginfeksi jantung atau otak. Vaksin jenis kedua yaitu vaksin Ankara yang lebih aman serta dapat digunakan oleh orang dengan sistem kekebalan yang lemah.[5]

Referensi:
  1. Jill Seladi-Schulman, Ph.D. Chickenpox VS Measles: What’s The Difference?. Medical News Today: 2018.
  2. Anonim. Chickenpox VS Measles: What’s The Difference?. Maple Leaf Medical Centre: 2019.
  3. Shannon Johnson & Debra Sullivan, Ph.D, MSN, RN, CNE, COI. Smallpox. Healthline: 2017.
  4. Mayo Clinic Staff. Measles. Mayo Clinic: 2020.
  5. Mayo Clinic Staff. Smallpox. Mayo Clinic: 2020.
  6. Anonim. Smallpox. Centers for Disease Control and Prevention: 2016.
  7. Adam Felman & Kevin Martinez, MD. What to Know About Measles. Medical News Today: 2020.
  8. 8. Dr Dawn Harper. When Should Parents Worry About Chickenpox?. Netdoctor: 2016.